Si pendendam dan Si Pemaaf

Tidak ada satupun yang tidak pendendam, hanya situasinya yang menyebabkan seseorang menutupi dendamnya, tapi setiap orang pasti pemaaf dan tidak berarti orang itu lupa akan perbuatan seseorang yang membuatnya harus memaafkan.

Adakalanya si pendendam akan menunjukan betapa dendamnya dia dengan orang yang didendaminya, tapi ketika akalnya masih bekerja dia akan terus menutupi sikapnya yang pendendam dan akan tetap tertawa dan bercanda ria dengan orang yang didendaminya seolah-olah tidak ada hal buruk yang terjadi diantara mereka. Tapi hal yang menjadikan si pendendam semakin dendam dengan orang yang didendaminya adalah ketika ada suatu saat dia harus memaafkan orang yang didendaminya karena beberapa hal, seperti ada kebaikan yang membuatnya seolah-olah tak berkutik dibuatnya, semisal si pendendam mendapat musibah dan hanya orang yang didendami yang bisa menolongnya, dan orang yang didendaminya itu tulus membantu bahkan sampai harus melakukan hal yang tidak diduga oleh si pendendam seperti ketika si pendendam naik sepeda pada suatu malam dan dia terjatuh dari sepedanya lalu terpeleset karena terserempet oleh mobil yang menyalipnya cukup kencang sehingga membuatnya tersungkur dan lebih parahnya membuat salah satu kakinya mengalami patah tulang, lalu di saat yang sama dia berada di jalan yang sepi dan tidak ada satupun yang lewat waktu itu, lalu hanya dia orang yang didendaminya yang lewat yang saat itu hanya berjalan kaki, lalu apa yang ada dalam pikiran si pendendam ? Jelas dia akan merasa keapesannya semakin lengkap. Tapi menjadi tidak terduga ketika si pendendam terus berpura-pura tidak memerlukan bantuan orang yang didendaminya padahal kondisinya sudah benar-benar kritis dan butuh pertolongan dengan segera.

Lalu si pendendam hanya terdiam dan tidak ingin banyak berkata karena posisinya yang merasa cukup apes dan tidak ingin kehilangan kendali atas emosinya. Dan orang yang didendaminya terus melakukan hal yang membuat si pendendam tidak nyaman meskipun si pendendam sendiri tidak tahu bahwa apa yang dilakukan oleh orang yang didendaminya itu sesuai prosedur untuk menolongnya. Karena semakin kritis dan si pendendam tetap pada pendiriannya untuk gengsi tidak ingin ditolong orang yang didendaminya, kemudian orang yang didendaminya segera mengambil tindakan mencari pertolongan dengan berteriak-teriak. Tidak ada yang merespon orang yang didendaminya kemudian berlari ke sepanjang jalan untuk mencari pertolongan. Dan dia kembali kepada si pendendam dan merasa bersalah karena tidak mendapatkan bantuan. Lalu dari kejauahan terlihat mobil yang akan melintasi jalur mereka, lalu dia yang didendaminya dengan sigap berusaha menghentikan laju mobil tersebut dengan melakukan hal seperti lompat-lompat untuk mendapatkan perhatian dari pengendara mobil, semakin dekat ternyata laju mobil sangat kencang dan lewat begitu saja, kemudian kesal orang yang mencari perhatian si pengendara mobil tadi. Lalu datang mobil lagi dari arah berikutnya, kali ini dia tidak ingin sia-sia kemudian dia berhenti ditengah jalan untuk menghentikan laju mobil berikutnya, akan tetapi nasib sama yang terjadi tapi kali ini orang yang didendami tersebut nyaris tertabrak oleh mobil yang berusaha dihentikannya.

Si pendendam memperhatikan tingkah orang yang didendaminya, demi apa orang itu sampai seperti itu, padahal dia sangat didendami oleh si pendendam, berteriak-teriak, lari kesana kemari, berlompat-lompat bahkan nyaris tertabrak mobil, lali si pendendam menutupi wajahnya dan sedikit keluar air matanya karena merasa malu kenapa orang setulus dia harus didendami oleh si pendendam, merasa menyesal dan tidak tau harus berbuat apa karena kondisinya yang cukup parah. Lalu tiba-tiba terdengar suara tabrakan yang cukup keras yang membuat si pendendam terkejut. Suara apa itu ? Jangan-jangan orang itu ?

Si pendendam menoleh kearah suara tabrakan tadi, dia melihat orang yang didendaminya berdiri dengan tangan yang mengayun kearah jalan dengan sebuah mobil besar model double kabin yang mengerem mendadak dan sedikit tergelincir dan kemudian berhenti. Lalu dilihatnya mobil itu penyok bagian depannya dengan sebuah kayu di bagian bumper mobil tersebut, tidak parah hanya saja sepertinya ada kayu yang tertabrak cukup keras sehingga menjadikannya puing-puing berserakan dijalan.

Lalu keluar si pengendara mobil dengan badan besar dan cukup kekar hendak menghajar orang yang didendaminya, benar saja orang yang didendaminya dihajar kepalanya hingga tersungkur dan keluar darah dari bibirnya oleh si pengendara mobil, si pengendara mobil marah karena orang yang didendaminya melempar sepotong kayu yang cukup besar ke arah mobilnya yang sedang melaju kencang. Belum sempat menjelaskan maksud dan tujuan dari orang yang didendami si pendendam, si pengendara mobil malah menendangi orang tadi yang masih tersungkur.

Kemudian dari dalam mobil keluar seorang perempuan dan meminta si pengendara mobil menghentikan tindakannya dan perempuan tadi berjalan menuju ke arah si pendendam. Dilihat-lihatnya si pendendam ternyata mengalami luka serius dan harus segera dibawa ke rumah sakit, lalu si perempuan meminta si pengendara mobil untuk menolongnya dan segera mengantarnya ke rumah sakit.

Masih dengan raut muka marah dan terkejut melihat kondisi si pendendam, si pengendara mobil segera membopong dengan berhati-hati si pendendam yang mengalami luka parah dan butuh kehati-hatian dalam penanganannya sebelum sampai ke rumah sakit. Selesai membopong si pendendam, lalu dibawanya juga sepeda si pendendam. Lalu ketiganya sudah di dalam mobil dan dengan terburu-buru segera mengantarkan si pendendam ke rumah sakit.

Sebelum si pengendara mobil menyalakan mobilnya, si pendendam menanyakan orang yang didendaminya, dia minta untuk diajaknya orang itu. Tapi kata si pengendara mobil orang itu nyaris membuatnya celaka dan mungkin kecelakan si pendendam juga ulah dari orang yang baru saja dihajar si pengendara mobil. Lalu si pendendam mengatakan bahwa yang membuat si pengendara mobil dan perempuan turun dari mobil untuk menolongnya adalah orang yang baru saja dihajar si pengendara mobil yang masih tersungkur di pinggir jalan.

Mendengar pernyataan si pendendam, si pengendara mobil menjadi terkejut dan segera menghampiri orang yang baru saja dihajarnya, ternyata dia masih sadar diri dan seperti sudah tidak ada daya untuk berdiri, lalu diangkatnya dan dibawanya juga kedalam mobil bersama si pendendam dengan posisi si pendendam tiduran dengan kepala di paha orang yang didendaminya.

Kemudian mereka berempat bergegas menuju rumah sakit terdekat yang bisa menangani kasus yang dialami oleh si pendendam. Disepanjang jalan si pendendam kadang memandangi orang yang didendaminya dan orang yang didendaminya terus menjaga posisi dari si pendendam dan si perempuan ikut menjaga dan sering menanyakan keadaan si pendendam dan tak jarang justrus orang yang didendaminyalah yang paling sering menjawab.

Sesampainya di rumah sakit, si pengendara mobil langsung menuju bagian gawat darurat dan segera meminta tim medis yang ada untuk segera memberikan pertolongan kepada si pendendam. Tak lama tim medis datang dan mengevakuasi si pendendam dan dipindahkan ke kasur yang sudah disediakan dan si pengendara mobil segera mengurus bagian administrasi, kemudian si perempuan membawa orang yang didendami si pendendam ke tempat perawatan luka ringan dan proses medis sedang berlangsung.

Si pendendam mendapatkan ruang untuk perawatan sebelum penanganan tingkat lanjut dari luka-lukanya. Lalu orang yang didendaminya sudah mendapat perawatan medis yang sudah bisa dirawat sendiri dengan obat yang sudah disediakan rumah sakit, kemudian si pengendara mobil dan si perempuan mencoba menghubungi keluarga si pendendam dan orang yang didendaminya.

Setelah semua proses itu selesai dan tiba pada masa tenang. Si pendendam melihat orang yang didendaminya menungguinya di dekat kasur dia dirawat, dia tertidur dan sepertinya cukup kelelahan. Lalu si pengendara mobil dan perempuan masuk ke kamar si pendendam dengan membawa beberapa makanan untuk dimakan karena mereka belum makan karena kesibukan dalam mengurus kejadian yang dialami oleh si pendendam.

Lalu si perempuan menawarkan makanan kepada orang yang didendami si pendendam dan si pengendara mobil meminta maaf telah membuatnya jadi babak belur karena perlakuannya. Dan oramg yang dihajar si pengendara memaafkan dan mengakui bersalah juga sudah melakukan hal tersebut dan menjelaskan terpaksa melakukannya karena sudah cukup putus asa dan dengan melakukan hal tersebut dia pikir itu adalah satu-satunya cara yang akan berhasil menghentikan mobil si pengendara mobil. Dan memang berhasil dan cukup keras dampak yang terjadi bagi siapapun yang ada ditempat itu waktu itu. Termasuk dampak babak belur yang didapatkan oleh orang yang didendami si pendendam. Lalu mereka mulai akrab dan bisa mulia tertawa bersama.

Dalam jangka waktu yang tidak lama keluarga si pendendam datang dan menangisi keadaan si pendendam, tidak lupa berterimakasih kepada si pengendara mobil dan perempuan yang sudah mau menolong si pendendam. Tidak lupa juga orang yang didendami si pendendam mendapat pelukan terimakasih dari keluarga si pendendam.

Kemudian semua yang ada di ruang kamar si pendendam bercengkrama dan mengakrabkan suasana hingga tiba waktu dokter untuk menjemput si pendendam untuk dilakukan perawatan berikutnya yaitu operasi tulang kaki dari si pendendam. Dan si pendendam dibawa ke ruang operasi bagian tulang oleh tim dokter rumah sakit.

Proses dari operasi si pendendam cukup lama dan semuanya menunggu dengan cukup cemas menunggu hasil operasi dari si pendendam oleh tim dokter rumah sakit. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya salah satu dokter keluar dari ruangan dan menyatakan bahwa proses operasi sudah selesai dan dinyatakan si pendendam aman dan bisa melanjutkan ke tahap perawatan berikutnya. Semua yang menanti akhirnya merasa lega dan bahagia atas pernyataan dari dokter dan tahap demi tahap si pendendam mulai kembali normal seperti biasanya meskipun tidak seperti sebelum si pendendam mengalami kecelakaan yang nyaris membuatnya kehilangan harapan untuk hidup.

Selama proses penyembuhannya, si pendendam tidak jarang ditemani oleh orang yang didendaminya dan tidak jarang juga teman-temannya yang lain dan juga teman dari orang yang didendaminya, mereka selalu menjenguk dan mendukung untuk segera sembuh.

Dan hari demi hari penderitaan si pendendam semakin berkurang hingga sampai saatnya ia kembali normal bisa beraktifitas seperti biasanya. Dan betapa bersyukurnya si pendendam ketika itu ditolong oleh orang yang didendaminya yang justru kini menjadi orang yang paling dia perhitungkan sepanjang hidupnya.

Lalu si pendendam memutuskan untuk lebih menjadi si pemaaf meskipun terkadang dendam itu selalu ada, karena dari kisahnya, si pendedam tidak akan menjadi pemaaf jika tidak ditolong oleh orang yang didendaminya sehingga ia bisa bertemu dengan dua orang asing yang menolongnya yang ternyata dia dulunya adalah tetangganya yang dulu juga mendendami keluarga si pendendam.

Kita boleh saja menjadi pendendam, tapi jangan terlalu pendendam, karena Tuhan tahu caranya membolak-balikkan hati si pendendam menjadi lebih pemaaf dan lebih murah hati melalui makhluk ciptaannya. Jadi janganlah mendendami apalagi membenci sesama, karena kita sama-sama ciptaan Tuhan dimana kita membenci ciptaan-Nya maka sama saja kita membenci Sang Pencipta, dan apabila kita menyayangi sesama maka itu sama dengan merawat dan menyayangi ciptaan-Nya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s